TREND SULAWESI– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tolitoli khususnya di wilayah kecamatan Ogodeide menghadapi tantangan medan berat karena sebagian distribusi makanan untuk anak-anak sekolah harus dilakukan dengan menyeberangi sungai.
Distribusi MBG yang dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ogodeide-Bilo terpaksa harus melawati sungai dikarenakan jembatan darurat sebagai penghubung ke SMPN 1 Ogodeide tak layak untuk di lalui.
Perjalanan logistik makanan bergizi ini menjadi rutinitas harian bagi petugas SPPG Ogodeide-Bilo dibawah naungan Yayasan Karina Peduli Bangsa yang memastikan setiap paket makanan sampai kepada para siswa penerima manfaat meskipun kondisi lapangan tidak selalu bersahabat.
Ketua Yayasan Karina Peduli Bangsa, Karina, SE dikonfirmasi media ini menjelaskan, Sebagian penerima manfaat berada di lokasi yang tidak memiliki akses jalan darat memadai sehingga distribusi hanya bisa dilakukan melalui jalur air di Sungai muara besar.
“Terdapat 1 sekolah yang harus kami layani melalui jalur sungai, yaitu SMP Negeri 1 Ogodeide,” ujarnya.
Untuk mencapai sekolah-sekolah tersebut, makanan yang telah disiapkan di dapur MBG harus diangkut dengan menyebrangi sungai.
Perjalanan di sungai tidak selalu mulus karena ketika banjir datang, gelombang sungai sering kali cukup besar sehingga memengaruhi stabilitas ompreng atau wadah makanan yang dibawa.
Selain menghadapi arus sungai, tantangan juga muncul dari akses menuju jalan tanah sehingga menjadi sangat licin dan sulit dilalui kendaraan saat hujan turun.
“Kalau baru saja hujan, jalannya pasti licin dan beresiko,” kata Karina.
Walau menghadapi berbagai kendala medan, tim SPPG Ogodeide-Bilo tetap berkomitmen memastikan distribusi makanan bergizi berjalan setiap hari tanpa terhenti.
Menurut Karina, kegiatan tersebut tidak sekadar pekerjaan rutin mengantar makanan, melainkan memiliki makna sosial yang jauh lebih besar.
“Kami merasakan ini bukan hanya sebuah pekerjaan, melainkan sebuah arti. Arti kepedulian terhadap anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan seluruh penerima manfaat,” ungkapnya.
Setiap perjalanan yang harus melewari Sungai dan setiap langkah di jalan berlumpur membawa harapan bagi anak-anak yang menunggu makanan bergizi di sekolah mereka.
Program MBG pun menjadi bukti nyata bahwa upaya pemenuhan gizi bagi generasi muda terus dilakukan hingga menjangkau wilayah yang paling sulit diakses sekalipun.
Karina berharap titik tersebut tersentuh pembangunan jembatan dari pemerintah agar distribusi MBG dan aktivitas masyarakat lintas desa dan siswa dapat berjalan lancar.
Dirinya juga berharap Satgas Percepatan Pembangunan Jembatan yang dibentuk Presiden dapat segera bergerak membantu wilayah-wilayah terpencil seperti Desa Muara Besar
“Harapan kami, semoga pemerintah bisa membantu membangun jembatan untuk mempermudah pelayanan MBG ke sekolah,” tuturnya.
Namun demi kebutuhan gizi anak-anak, masyarakat sekitar sekolah rela turun tangan, menggotong MBG menembus arus sungai dan mengantarkannya hingga ke ruang-ruang kelas.
Bagi para petugas di garis depan distribusi, selama masih ada anak-anak yang menanti makanan bergizi, perjalanan menembus sungai dan melintasi jalan rusak akan terus dilanjutkan demi memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk tumbuh sehat dan kuat.***





