TREND SULAWESI - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli meninjau langsung Pembangunan proyek Tanggul Pemecah Ombak (TPO) sebagai penahan abrasi di pantai Tubele Desa Kalangkangan, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah abrasi pantai di Dusun Tubele yang telah mengikis ratusan meter daratan pantai.
Warga pesisir menyambut baik program Kementerian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang melanjutkan pembangunan tanggul pemecah ombak di sepanjang pantai di Kalangkangan, Tolitoli, pada tahun anggaran 2026. Pasalnya, tanggul menjadi solusi masyarakat terhindar dari ancaman banjir rob.
"Alhamdulillah kalau pemerintah masih melanjutkan pembangunan tanggul pemecah ombak, jadi tahun ini tanggulnya bisa sampai menutupi wilayah pesisir kami, tidak terlalu khawatir lagi saat pasang purnama terjadi," ujar Rehan Pratama, warga yang tinggal di wilayah pesisir pantai.
Menurut dia, ancaman banjir rob dapat terjadi 1-2 kali dalam setahun, sehingga membuat warga harus meningkatkan kewaspadaan setiap memasuki musim pasang air laut tinggi.
"Kalau di tempat saya, ketinggian banjir air laut bisa mencapai 20- 30 cm, makanya saya senang saat mendengar proyek tanggul dilanjutkan," ungkapnya.
Terpisah, Kepala BPBD menjelaskan, pada tahun ini telah mengalokasikan dana untuk proyek pembangunan tanggul pemecah ombak sepanjang 273 meter pesisir pantai Kalangkangan .
Abdullah Haruna menjelaskan, tanggul ini nantinya dapat mengatasi persoalan abrasi pantai yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat berdomisili sekitar pesisir pantai.
Tanggul yang dibangun pemerintah tersebut dinilai efektif untuk mencegah terjadinya abrasi pantai, sekaligus menghindari potensi bencana pasang surut air laut yang terjadi di pemukiman masyarakat yang bermukim di sekitar pantai.
Dengan dilanjutkannya pembangunan tanggul pengaman pantai Kalangkangan, kata Abdullah Haruna, diharapkan masyarakat terlindungi dari terjangan abrasi pantai dan bencana alam banjir rob.





